Aku Ingin Blackberry Lagi

Tepatnya empat tahun yang lalu, tahun 2009. Sekitar 2 bulan setelah di wisuda kuliah dengan program Diploma 3, lalu kemudian melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi yaitu S1, aku baru menggunakan telepon genggam atau yang lebih populer di banyak kalangan orang dengan menyebutnya “Handphone”. Ya, disaat itu pertama kalinya aku baru menggunakan handphone. Memang bisa dibilang aku ketinggalan zaman. Namun itulah kenyataannya.

Handphone-ku itu adalah sebuah handphone GSM berlayar monochrome, abu-abu hitam, dan sekaligus tebalnya bukan main jika dibandingkan dengan keluaran saat ini tahun 2013. Maklum, handphone itu kudapat dari hibah Ayahku, alias warisan Ayahku-yang boleh didapatnya dari hadiah kantor. Seingatku, handphone itu keluaran sekitar tahun 2001/2002, kalau tidak salah. Sebagai gantinya, beliau pun membeli sebuah handphone baru dengan layar berwarna, dan dengan desain yang lebih tipis dari handphone-nya sebelumnya. Aku ingat Ayahku berkata seperti ini dulu.

“Handphone Ayah yang Ayah dapat dari hadiah kantor ini buat kamu saja. Ayah tahu, kamu butuh handphone untuk berkomunikasi dengan teman-temanmu dan juga dosenmu.”

Saat beliau berbicara seperti itu. Aku merasa kalau Ayah mengingat dengan baik saat aku harus keluar masuk wartel yang tak jauh dari rumahku (warung telepon) untuk sekedar berdiskusi dengan kedua dosenku mengenai bimbingan tugas akhir. Ya, itu yang sering kulakukan dulu, ketika Ayah sedang bekerja dan handphone-nya dibawanya bekerja. Jadi tak ada pilihan lain selain pergi ke wartel. Sekedar untuk mengingat. Tugas akhir itu adalah karya tulis yang harus diambil oleh mahasiswa/i pada semester 6-pada program Diploma 3. Karena dengan mengambil tugas akhir dan maju sidang, lalu kemudian dinyatakan lulus dengan nilai yang mencapai target, maka mahasiswa/i tersebut dapat di wisuda, dan berhak menggenggam titel A.Md (Ahli Madya) di belakang nama lengkap mereka.

“Biarpun handphone ini ketinggalan zaman, tak usah kamu risaukan. Kamu ini kan masih sekolah, jadi tak perlu handphone yang bagus. Bisa komunikasi saja, Ayah rasa itu sudah cukup untukmu.” Ujar Ayahku lagi sambil tersenyum. Aku pun menjawabnya dengan senyuman juga, dan tak mengucap kata.

Dalam batinku, aku merasa sangat senang. Tak mengapa handphone ini keluaran zaman dulu. Karena yang terpenting, dengan handphone ini aku akan bisa bekomunikasi dengan teman-teman kuliahku dan dosen-dosenku, mengenai tugas atau skripsi yang kan kuhadapi setahun kemudian. Aku pun tak harus lagi keluar masuk wartel dan menghabiskan banyak uang disana.

“Jadi… kalau seandainya kamu bimbingan skripsi nanti. Kamu tak harus keluar masuk wartel. Mengerti ?.” Lagi-lagi Ayahku itu menyunggingkan senyumnya.

“Terima kasih Yah.” Jawabku cepat. Lalu segera kuambil handphone itu yang diletakkan Ayah di hadapanku-diatas meja. Kupandangi handphone itu untuk sesaat. Terbayang jelas, dengan handphone ini, komunikasi antar teman-teman kuliahku dan dosenku menjadi semakin lebih mudah.

Waktu pun terus berjalan. Dan Alhamdulillah, kuliahku lancar setahun kemudian. Handphone hibah Ayah itu memang berguna. Menanyakan tugas ke teman-temanku pun seakan jadi lebih mudah, hanya dengan short mesage service (SMS). Ketika aku mulai bimbingan skripsi pun juga terasa lebih mudah dengan handphone itu bersamaku. Aku jadi lebih mudah menanyakan lokasi dosen pembimbingku sedang berada dimana saat itu. Maklum saat bimbingan skripsi, dosen bimbingan skripsiku itu sering tidak berada di kampus. Itu juga yang pernah kualami saat bimbingan tugas akhir setahun lalu. Saat aku menghampiri seorang dosen di sebuah kampus, ternyata dosen itu tidak ada ditempat. Dan dosen itu ternyata berada di kampus lain dengan jarak yang jauh dari kampus yang kudatangi. Padahal aku mengeluarkan banyak perjuangan untuk menghampiri dosen bimbinganku itu ke kampusnya. Salah satunya dengan kehujanan dan basah kuyup.

Beberapa bulan kemudian, aku pun dinyatakan lulus sidang skripsi dengan mendapatkan nilai grade A, nilai IPK pun juga memuaskan. Dan tentunya, aku pun berhak mengikuti acara prosesi wisuda untuk menggenggam titel Sarjana di belakang namaku. Tentunya setelah mendengar cerita kalau aku lulus sidang skripsi, Ayah dan Ibuku amat senang. Impian Ayah dan Ibuku sejak aku kecil, memang ingin menyekolahkanku hingga ke perguruan tinggi, setinggi yang beliau berdua bisa lakukan untukku. Maksudku, dulu Ayah dan Ibuku ingin agar aku sekolah sampai S1. Lalu waktu pun berjalan, dan wawasan serta pengetahuan Ayah dan Ibuku bertambah. Maka impian Ayah dan Ibuku juga bertambah. Ayah dan Ibuku menjadi ingin agar aku melanjutkan studi kuliahku hingga S2.

Sejak kecil dulu, aku telah berjanji di dalam hatiku untuk belajar hingga sekolah tinggi. Maka dari itu aku pun mengiyakan impian Ayah dan Ibuku itu. Terlebih lagi, aku memang menginginkan melanjutkan studi kuliahku.

Satu bulan kemudian setelah prosesi wisuda Sarjana, aku pun mulai mencari kerja. Dan singkat cerita, pada akhirnya setelah menunggu cukup lama aku pun mendapatkan sebuah pekerjaan di sebuah perusahaan ternama yang bergerak dalam bidang keuangan. Aku pun mulai bertekad, jika aku melanjutkan ke jenjang S2 nanti, aku harus bisa membiayai sendiri semua urusan biaya kuliahku. Tanpa harus melibatkan lagi atau meminta uang lagi kepada Ayah dan Ibuku.

Setahun kemudian, dengan uang tabunganku yang kusisihkan dari gaji yang kudapat setiap bulan, aku mulai mendaftar S2 di sebuah kampus swasta ternama di Indonesia. Aku pun mulai mengikuti serangkaian tes, yaitu wawancara dan tes praktek. Dan singkat cerita, aku dinyatakan diterima. Tentunya Ayah dan Ibuku bangga dengan pencapaianku itu. Aku pun turut bahagia, melihat Ayah dan Ibuku bahagia. Terlebih lagi dua hari kemudian, kebahagiaanku bertambah. Karena di tempat kerjaku sedang diadakan sebuah acara setiap tahunnya untuk penghargaan beberapa pegawai yang berprestasi. Dalam artian, seorang pegawai yang memberikan kerja nyata, penuh dedikasi pada perusahaan, dan seorang pegawai yang sering mencapai target yang dibebankan oleh perusahaan pada jobdesk-nya.

Di malam penghargaan itu, aku tak menyangka akan mendapatkan penghargaan sebagai salah satu pegawai yang berprestasi. Dan hadiah yang kudapat, aku mendapatkan sebuah smartphone Blackberry Davis 9920 !. Rasanya bahagia seklai saat malam itu. Di sisi lain, akhirnya aku bisa mengganti handphone-ku yang lama dengan sebuah smartphone yang canggih bukan main. Tentunya dengan layar berwarna, desain lebih tipis, dan sejumlah fitur yang bisa membuatku jauh dari bosan. Dan tentunya, semakin mempermudahku dalam berkomunikasi. Dalama kata lain, aku bisa memanfaatkan salah satu fitur smartphone tersebut, yaitu Blackberry Messenger (BBM) untuk berkomunikasi dengan rekan kerjaku dan atasanku.

Dan memang benar saja, dengan Blackberry Davis 9220 dan ditambah menggunakan operator XL, komunikasi yang terjalin dengan rekan kerjaku dan atasanku terasa semakin lancar. Tugas-tugas kerja yang dibebankan atasanku kepadaku bisa diinformasikan lewat BBM, dan push email. Itu jika aku diminta untuk mengerjakan sebuah tugas diluar jam kerja. Di sisi lain, rasa jenuh pun bisa hilang seketika dengan memanfaatkan sejumlah fitur yang kaya dan canggih dari Blackberry Davis ini. Bertukar informasi melalui BBM dengan teman-temanku juga amat menghiburku, apalagi BBM juga dimanfaatkan untuk mengirim gambar/foto ataupun cerita lucu yang mengundang gelak tawaku saat melihatnya. Apalagi, dengan menggunakan operator XL, aku bisa update berita dengan berselancar di internet dengan cepat. XL memang operator yang terbaik menurutku.

XL operator

Maka dari itu semenjak menggunakan Blackberry, aku hampir tak pernah merasakan duka. Rasanya selalu suka secara terus-menerus.  Itu menurutku. Ini karena berkat smartphone Blackberry, urusan komunikasi pekerjaanku menjadi lebih mudah. Dan beberapa bulan kemudian, aku pun naik jabatan kerja dan dengan gaji yang juga naik meskipun tak signifikan.

Hal yang kuanggap duka adalah, ketika aku harus menjual Blackberry-ku itu. Karena saat itu aku amat membutuhkan uang untuk membiayai kuliahku yang mencapai angka 5 juta dalam satu semester. Meskipun gajiku naik, tapi itu tak cukup membantuku dalam membiayai kuliahku. Untuk meminta uang kepada orang tua, rasanya tak mungkin kulakukan lagi. Maka dari itu secara terpaksa, aku pun menjual Blackberry yang telah memberikan hal yang banyak kepadaku sehingga aku bisa naik jabatan kerja dan bisa mandiri seperti sekarang ini.

Namun suatu saat nanti, aku ingin sekali menggunakan Blackberry kembali. Karena menggunakan smartphone Blackberry, segalanya dalam urusan komunikasi menjadi lebih mudah. Meskipun rasanya hal itu harus kupendam lama. Karena saat ini, aku memfokuskan pengeluaran sebagian besar gajiku hanya untuk membiayai kuliahku. Semoga nanti, aku bisa menggunakan Blackberry lagi.

Berikut foto-foto Blackberry Davis 9220 milikku yang telah aku jual:

IMG-20121028-00377

IMG-20121103-00379

Sumber foto : dokumen pribadi

Artikel “Aku Ingin Blackberry Lagi” diikut-sertakan pada #BBBaru Blog Competition XL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s